Senin, 09 Januari 2012

askep ISK



BAB I
PENDAHULUAN


A. Latar Belakang

Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah istilah umum yang dipakai untuk menyatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. Prevalensi ISK di masyarakat makin meningkat seiring dengan meningkatnya usia. Pada usia 40 – 60 tahun mempunyai angka prevalensi 3,2 %. Sedangkan pada usia sama atau diatas 65 tahun kira-kira mempunyai angka prevalensi ISK sebesar 20%. Infeksi saluran kemih dapat mengenal baik laki-laki maupun wanita dari semua umur baik anak-anak, remaja, dewasa maupun lanjut usia. Akan tetapi dari kedua jenis kelamin, ternyata wanita lebih sering dari pria dengan angka populasi umum kurang lebih 5-15%.
Untuk menyatakan adanya ISK harus ditemukan adanya bakteri dalam urin. Bakteriuria yang disertai dengan gejala saluran kemih disebut bakteriuria simptomatis. Sedangkan yang tanpa gejala disebut bakteriuria asimptomatis. Dikatakan bakteriuria positif pada pasien asimptomatisbila terdapat lebih dari 105 koloni bakteri dalam sampel urin midstream, sedangkan pada pasien simptomatis bisa terdapat jumlah koloni lebih rendah.

Prevalensi ISK yang tinggi pada usia lanjut antara lain disebabkan karena sisa urin dalam kandung kemih meningkat akibat pengosonga kandung kemih kurang efektif , mobilitis menurun, pada usia lanjut nutrisi sering kurang baik, sistem imunitas menurun.
Baik seluler maupu humoral, adanya hambatan pada aliran urin,hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat. Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan penyakit yang perlu mendapat perhatian serius. Di Amerika dilaporkan bahwa setidaknya 6 juta pasien datang kedokter setiap tahunnya dengan diagnosis ISK. Disuatu rumah sakit di Yogyakarta ISK merupakan penyakit infeksi yang menempati urutan ke-2 dan masuk dalam 10 besar penyakit (data bulan Juli – Desember).
Infeksi saluran kemih terjadi adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. Untuk menegakkan diagnosis ISK harus ditemukan bakteri dalam urin melalui biakan atau kultur (Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001) dengan jumlah signifikan (Prodjosudjadi, 2003). Tingkat signifikansi jumlah bakteri dalam urin lebih besar dari 100/ml urin. Agen penginfeksi yang paling sering adalah Eschericia coli, Proteus sp., Klebsiella sp., Serratia, Pseudomonas sp. Penyebab utama ISK (sekitar 85%) adalah Eschericia coli (Coyle & Prince, 2005). Penggunaan kateter terkait dengan kemungkinan lebih dari satu jenis bakteri penginfeksi.









B. Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Tujuan Umum
Diperoleh pengalaman secara nyata dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien dengan ISK
2. Tujuan Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada klien dengan ISK
b. Mampu menentukan masalah keperawatan pada klien dengan ISK
c. Mampu merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan ISK
d. Mampu melaksanakan tindakan keperawatan pada klien denan ISK
e. Mampu melaksanakan evaluasi keperawatan pada klien dengan ISK
f. Mampu mengidentifikasi kesenjangan yang terdapat antara teori dan kasus

C. Ruang Lingkup

Dalam penyusunan makalah ini penulis hanya membatasi masalah mengenai Asuhan Keperawatan pada klien ny,s dengan infeksi saluran kemih diperawatan iv lantai 3 Rumah Sakit islam faisal

D. Metode Penulisan

Dalam penulisan makalah ini, penulis menggunakan tehnik pengumpulan data yaitu dengan wawancara langsung terhadap pasien dengan tehnik anamnesa baik pada pasien, keluarga, serta teman sejawat. Observasi dengan melakukan pengamatan kepada pasien, studi kepustakaan dengan mempelajari buku-buku yang berhubungan dengan asuhan keperawatan  pada pasien dengan Infeksi Saluran Kemih dan referensi internet.

E. Sistematika Penulisan

Makalah ini terdiri dari empat  bab yang disusun secara sistematika dengan urutan sebagai berikut :
Bab I : Pendahuluan yang terdiri dari latar belakang, tujuan, ruang lingkup, metode
Penulisan dan sistematika penulisan.
Bab II : Tinjauan teori yang terdiri dari Pengertian. Etiologi, Patofisiologi, Pengkajian Keperawatan, Diagnosa Keperawatan, Perencanaan Keperawatan, Pelaksanaan Keperawatan, Evalusi Keperawatan
Bab III: Tinjauan kasus terdiri dari Pengkajian Keperawatan,data fokus,analisa data,Diagnosa Keperawatan, perencanaan Keperawatan, implementasi Keperawatan dan Evaluasi Keperawatan
Bab IV : Kesimpulan dan  saran







BAB II
TINJAUAN TEORI
1.konsep dasar medis
A. Pengertian
Infeksi Saluran Kemih atau urinarius Troctus infection adalah sutatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, 2001)
Infeksi Saluran Kemih adalah suatu keadaan adanya infeksi bakteri pada saluran kemih. (Enggram, Barbara, 1998)
Infeksi saluran kemih pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang di sebabkan oleh bakteri terutama escherichia coli: resiko dan beratnya meningkat dengan kondisi seperti refluksvesikouretral, obstruksi saluran perkemihan, statis perkemihan, pemakaian instrumen baru,septikemia. (Susan Martin Tucker, dkk,1998)
Infeksi saluran kemih adalah suatu istilah umum yang dipakai untuk mengatakan adanya invasi mikroorganisme pada saluran kemih. (Agus Tessy, Ardaya, Suwanto, 2001)

B. Etiologi

1. Jenis-jenis mikroorganisme yang menyebabkan ISK, antara lain:
- Pseudemonas, Proteus,klebsiella: penyebab ISK complicated
- Escherichia coli:90% penyebab ISK uncomplicated
- Enterobacter, Staphyloccoccus epidemidis, enterococci,dll.

2. Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain:
- Sisa urine dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan
kandung kemih yang kurang efektif
- Mobilitas menurun
- Nutrisi yang kurang baik
- Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral
- Adanya hambatan pada aliran urin
- Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat

C. Patofisiologi
1. Proses Penyakit
Infeksi saluran kemih disebabkan oleh adanya mikroorganisme patogenik dalam traktus urinarius. Mikroorganisme ini masuk melalui: kontak langsung dari tempat infeksi terdekat, hematogen, limfogen.
Ada 2 jalur utama terjadi ISK yaitu asending dan hematogen
1. Secara Asending yaitu :
Masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih, antara lain : faktor anatomi
dimana pada wanita memiliki uretra yang lebih pendek dari pada laki- laki
sehingga insiden terjadinya ISK lebih tinggi, faktor tekanan urin saat miksi,
kontaminasi fekal, Pemasangan alat kedalam traktus urinarius (pemeriksaan
sistoskopik, pemakaian kateter), adanya dekubitus yang terinfeksi
2. Secara Hematogen, yaitu :
Sering terjadi pada pasien yang sistem imunnya rendah sehingga mempermudah penyebaran infeksi secara Hematogen. Ada beberapa hal yang mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen, yaitu adanya bendungan total urin yang yang mengakibatkan distensi kandung kemih, bendungan intrarenal akibat jaringan.
Pada usia lanjut terjadinya ISK ini sering disebabkan karena adanya :
Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung
kemih yang tidak lengkap
Mobilitas menurun
Nutrisi yang sering kurang baik
Sistem imunitas yang menurun
Adanya hambatan pada saluran urin
Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat

Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat tersebut mengakibatkan distensi yang berlebihan sehingga menimbulkan nyeri, keadaan ini mengakibatkan penurunan resistensi terhadap invasi bakteri dan residu kemih menjadi media pertumbuhan bakteri yang selanjutnya akan mengakibatkan gangguan fungsi gunjal sendiri, kemudian keadaan ini secara hematogen menyebar keseluruh traktus urinarius. Selain itu beberapa hal yang menjadi predisposisi ISK, antara lain adanya obstruksi aliran kemih proksimal yang mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter yang disebt sebagai hidronefroses. Penyebab umum obstruksi adalah jaringan perut ginjal, batu neoplasma dan hipertropi prostat yang sering ditemukan pada laki-laki diatas 60 tahun.

D.Klasifikasi
Klasifiksi infeksi saluran kemih sebagai berikut :
1. Kandung kemih (sistitis)
Sistitis (inflamasi kandung kemih) yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya infeksi dari uretra. Hal ini dapat disebabkan oleh aliran balik irin dari utetra kedalam kandung kemih (refluks urtovesikal), kontaminasi fekal, pemakaian kateter atau sistoskop.
2. Uretra (uretritis)
Uretritis adalah suatu infeksi yang menyebar naik yang di golongkan sebagai gonoreal atau non gonoreal. Uretritis gonoreal disebabkan oleh niesseria gonorhoeae dan ditularkan melalui kontak seksual. Uretritis non gonoreal adalah uretritis yang tidak berhubungan dengan niesseria gonorhoeae biasanya disebabkan oleh klamidia frakomatik atau urea plasma urelytikum
3. Ginjal (pielonefritis)
Pielonefritis infeksi traktus urinarius atas merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tubulus dan jaringan intertisial dari dalah satu atau kedua ginjal

Infeksi saluran kemih (ISK) pada usia lanjut dibedakan menjadi :
1. ISK Uncomplicated (simple)
ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik, anatomic maupun fungsional normal. ISK ini pada usia lanjut terutama
mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial kandung kemih.

2. ISK Complicated
Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis, dan shock.
ISK ini terjadi bila terdapat keadaan- keadaan sebagai berikut :
 Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko
Ø uretral obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung kencing menetap dan prostatitis.
 Kelainan faal ginjal :GGA maupun
Ø GGK
 Gangguan daya tahan tubuh
Ø
 Infeksi yang disebabkan karena
Ø organisme virulen seperti prosteus spp yang memproduksi urease.

E. Manifestasi klinis

Uretritis biasanya memperlihatkan gejala :
1. Mukosa memerah dan edema
2. Terdapat cairan eksudat yang purulent
3. Ada Ulserasi pada uretra
4. Adanya rasa gatal yang menggelitik
5. Good morning sign
6. Adanya nanah awal miksi
7. Nyeri pada awal miksi
8. Kesulitan untuk memulai miksi
9. Nyeri pada bagian abdomen

Sistitis biasanya memperlihatkan gejala :
1. Disuria (nyeri waktu berkemih)
2. Peningkatan frekuensi berkemih
3. Perasaan ingin berkemih
4. Adanya sel-sel darah putih dalam urin
5. Nyeri punggung bawah atau suprapubic
6. Demam yang disertai adanya darah dalam urin pada kasus yang parah.

Pielonefritis akut biasanya memperlihatkan gejala :
1. Demam
2. Menggigil
3. Nyeri pinggang
4. Disuria

F. Komplikasi
1. Prostatitis
2. Epididimis
3. Striktura uretra
4. Sumbatan pada vasoepididinal

G. Pemeriksaan Penunjang
1. Urinalisis
 Leukosuria atau puria :merupakan salah satu bentuk adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/ lapang pandang besar (LBP) sediment air kemih.
 Hematuria : Hematuria positif bila 5 – 10 eritrosit/ LBP sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerolus ataupun urolitiasis.

2. Bakteriologis
     Mikroskopis
    Biakan bakteri

3. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik
4. Hitung koloni : hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi.
5. Metode tes
 Tes dipstick  multistrip untuk WBC ( tes esterase leukosit ) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase leukosit positif : maka pasien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit.
 Tes Penyakit Menular Seksual (PMS) : Uretritia akut akibat organime menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonnorrhoeae, herpes simplek) .
 Tes - tes tambahan : Urogram Intravena (UIV), Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostat. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten.

H. Penatalaksanaan

Penanganan Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhadap flora fekal dan vagina.

Terapi Infeksi Saluran Kemih ( ISK ) pada usia lanjut dapat dibedakan atas :
• Terapi antibodika dosis tunggal
• Terapi antibiotika konvensional : 5-14 hari
• Terapi antibiotika jangka lama : 4-6 minggu
• Terapi dosis rendah untuk supresi

Pemakaian antimicrobial jangka panjang menurunkan resiko kekambuhan infeksi.penggunaan medikasi yang umum mencakup : sulfisoxazole (gastrisin),trimethoprim / sulfamethoxazole ( tpm / smz,bactrim,septra),kadang ampicillin atau amoksisilin digunakan,tetapi E.Coli telah resisten terhadap bakteri ini.pyridium,suatu analgesic urinarius juga dapat digunakan untuk mengurangi ketidak nyamanan akibat infeksi.Dan dianjurkan untuk sering minum dan BAK sesuai kebutuhan untuk membilas mikroorganisme yang mungkin naik ke uretra,untuk wanita harus membilas dari depan kebelakang untuk menghindari kontaminasi lubang uretra oleh bakteri feces.





2.konsep dasar asuhan keperawatan
A. Pengkajian Keperawatan

1. Data biologis meliputi :
• Identitas Klien
• Identitas Penanggung
2. Riwayat Kesehatan
• Riwayat Infeksi Saluran Kemih
• Riwayat pernah menderita Batu Ginjal
• Riwayat penyakit DM,Jantung
3. Pengkajian Fisik
• Palpasi Kandung Kemih
• Inspeksi daerah meatus :
a. kaji warna, jumlah, bau dan kejernihan urine
b. kaji pada costovertebralis
4. Riwayat Psikososial
• Usia,Jenis Kelamin, Pekerjaan,Pendidikan
• Persepsi terhadap kondisi penyakit
• Mekanisme Koping dan sistem pendukung

5. Pengkajian Pengetahuan Klien dan keluarga
• Pemahaman tentang penyebab / Perjalanan penyakit
• Pemahaman tentang pencegahan,perawatan dan terapi medis.


F). Diagnosa Keperawatan

1. Penyebarluasan Infeksi berhubungan dengan adanya bakteri pada saluran kemih
2. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan Inflamasi,Kandung Kemih,dan struktur traktus urinarius lain
3. Perubahan pola eliminasi urine (disuria,dorongan,frekuensi,dan atau noktuaria).berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit,metode pencegahan,dan instruksi perawatan dirumah.

G). Perencanaan Keperawatan
Dx. 1 : Penyebarluasan Infeksi berhubungan dengan adanya bakteri pada saluran kemih
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan Infeksi sembuh dan mencegah komplikasi.
KH : 1. Tanda-Tanda Vital dalam batas normal
2. Nilai Kultur Urine Negatif
3. Urine berwarna bening dan tidak berbau

Intevensi :
1. Kaji suhu tubuh pasien selama 4 jam dan lapor suhu diatas 38,5 0C
Rasional : Tanda – tanda vital menandakan adanya perubahan didalam tubuh.
2. Catat karakteristik urine
Rasional : Untuk mengetahui /mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.
3. Anjurkan pasien untuk minum 2-3 liter jika ada kontra indikasi
Rasional : Untuk mencegah statis urine
4. Monitor Pemeriksaan ulang urine kultur dan sensivitas untuk menentukan respon terapi
Rasional : Mengetahui seberapa jauh efek pengobatan terhadap keadaan penderita
5. Anjurkan pasien untuk mengosongkan kandung kemih secara komplit setiap kali kemih
Rasional : Untuk mencegah adanya distensi kandung kemih
6. Berikan keperawatan perineal,pertahankan agar tetap bersih dan kering
Rasional : Untuk menjaga kebersihan dan menghindari bakteri yang membuat infeksi uretra

Dx. 2 : Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih, dan struktur traktus urinarius lain
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan nyeri hilang atau berkurang saat dan sesudah berkemih

KH : 1. Pasien mengatakan / tidak ada keluhan nyeri pada saat berkemih
2. Kandung Kemih tidak tegang
3. Pasien tampak tenang
4. Ekspresi wajah tenang

Intervensi :
1. Kaji Intensitas, lokasi, dan faktor yang memperberat atau meringankan nyeri
Rasional : Rasa sakit yang hebat menandakan adanya infeksi
2. Berikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat ditoleran
Rasional : Klien dapat istirahat dengan tenang dan dapat merilekskan otot
3. Anjurkan minum banyak 2 - 3 liter jika tidak ada kontra indikasi
Rasional : Untuk mmbantu klien dalam berkemih
4. Pantau perubahan warna urine, pantau pola berkemih, masukan dan keluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang
Rasional : Untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan.
5. Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan
Rasional : Meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot.
6. Berikan perawatan perineal
Rasional : Untuk mencegah kontaminasi uretra
7. Jika dipasang kateter, perawatan kateter 2 kali per hari
Rasional : Kateter memberikan jalan bakteri untuk memasukikandung kemih dan naik saluran perkemihan
8. Alihkan perhatian pada hal yang menyenangkan
Rasional : Relaksasi, menghindari terlalu merasakan nyeri
9. Berikan obat analgetik sesuai dengan program terapi
Rasional : Analgetik memblok lintasan nyeri

Dx. 3 : Perubahan pola eliminasi berhubungan dengan obstruksi mekanik pada kandung kemih ataupun struktur traktus urinarius lain

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam klien dapat
mempertahankan pola eliminasi secara adekuat
KH : 1. Tidak terjadi tanda-tanda gangguan berkemih (urgensi,oliguri,disuria)
2. Klien dapat berkemih setiap 3 jam
3. Klien tidak kesulitan saat berkemih

Intervensi :
1. Ukur dan catat urine setiap kali berkemih
Rasional : Untuk mengetahui adanya perubahan warna dan untk mengetahui input/ output
2. Anjurkan untuk berkemih setiap 2 - 3 jam
Rasional : Untuk mencegah terjadinya penumpukan urine dalam vesika urinaria
3. Palpasi kandung kemih setiap 4 jam
Rasional : Untuk mengetahui adanya distensi kandung kemih
4. Awasi pemasukan dan pengeluaran karakteristik urine
Rasional : Memberikan informasi tentang fungsi ginjal dan adanya komplikasi
5. Dorong,meningkatkan pemasukan cairan
Rasional : Peningkatan hidrasi membilas bakteri
6. Kaji keluhan pada kandung kemih
Rasional : Retensi urine dapat terjadi dan menyebabkan distensi jaringan (kandung kemih/ginjal).
7. Bantu klien ke kamar kecil, memekai pispot/urinal
Rasional : Untuk memudahkan klien dalam berkemih
8. Bantu klien mendapatkan posisi berkemih yang nyaman
Rasional : Supaya klien tidak sukar berkemih
9. Observasi perubahan tingkat kesadaran
Rasional : Akumulasi sisa uremik dan ketidakseimbangan elektrolitdapat menjadi toksin pada susunan saraf pusat.
8. Kolaborasi :
• Awasi pemeriksaan laboratorium,elektrolit,bun,kreatinin
• Lakukan tindakan untuk memelihara asam urine dan berikan obat-obatan untuk meningkatkan asam urine
Rasional : Asam urin menghalangi tumbuhnya kuman. Peningkatan masukan sari buah dapat berpengaruh dalam pengobatan infeksi saluran kemih.

Dx. 4 : Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi tentang proses penyakit, metode pencegahan, dan instruksi perawatan dirumah

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pengetahuan klien bertambah
KH : 1. Kien tidak gelisah
2. Klien tenang
3. Klien dapat mengatakan tentang proses penyakit,metode pencegahan
dan instruksi perawatan di rumah



Intervensi :
1. Kaji tingkat kecemasan
Rasional : Untuk mengetahui berat ringannya kecemasan klien
2. Berikan kesampatan Klien untuk mengungkapkan perasaannya
Rasional : Agar klien mempunyai semangat dan mau empati terhadap perawatan dan pengobatan
3. Beri Support pada klien
Rasional : Agar klien mempunyai semangat
4. Berikan dorongan spiritual
Rasional : Agar klien kembali menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
5. Berikan penkes
Rasional : Agar klien mengerti sepenuhnya tentang penyakit yang dialaminya
6. Memberikan kepada pasien untuk menanyakan apa yang tidak diketahui tentang penyakitnya.
Rasional : Mengetahui sejauh mana ketidaktahuan pasien tentang penyakitnya
7. Kaji ulang proses penyakit dan harapan yang akan datang
Rasional : Memberikan pengetahuan dasar dimana pasien dapat menbuat pilihan berdasarkan informasi.
8. Berikan informasi tentang : sumber infeksi, tindakan untuk mencegah penyebaran, jelaskan pemberian antibiotik, pemeriksaan diagnostik: tujuan, gambaran singkat, persiapan yang dibutuhkan sebelum pemeriksaan, perawatan sesudah pemeriksaan.
Rasional : Pengetahuan apa yng diharapkan dapat mengurangi ansietas dan membantu mengembankan kepatuhan klien terhadap rencana terapeutik.
9. Anjurkan pasien untuk menggunakan obat yang diberikan, minum sebanyak kurang lebih delapan gelas per hari
Rasional : Pasien sering menghentikan obat mereka, jika tanda-tanda penyakit mereda. Cairan menolong membilas ginjal.
10. Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspesikan perasaan dan masalah tentang rencana pengobatan.
Rasional : Untuk mendeteksi isyarat indikatif kemungkinan ketidakpatuhuan dan membantu mengembangkan penerimaan rencana terapeutik

H). Pelaksanaan Keperawatan
Pada tahap ani untuk melaksanakan Intervensi dan aktivitas-aktivitas yang telah dicatat dalam rencana perawatan pasien.Agar Implementasi / pelaksanaan perencanaan ini dapat tepat waktu dan efektif maka perlu mengidentifikasi prioritas perawatan,memantau dan mencatat respon pasien terhadap setia Intervensi yang dilaksanakan serta mendokumentasikan pelaksanaan perawatan.
(Doengoes E Marilyn.dkk.2000)

I). Evaluasi Keperawatan
Pada tahap yang perlu dievaluasi pada klien dengan ISK adalah,mengacun pada tujuan yang hendak dicapai yakni apakah terdapat :
• Nyeri yang menetap atau bertambah
• Perubahan warna urine
• Pola berkemih berubah, berkemih sering dan sedikit-sedikit, perasaan ingin kencing, menetes setelah berkemih


BAB III
TINJAUAN KASUS

PENGKAJIAN KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH

I.BIODATA

A.IDENTITAS KLIEN
           
1.      Nama klien                              :Ny”S”
2.      Usia/tanggal lahir                    :33 tahun
3.      Jenis kelamin                           :perempuan
4.      Agama/keyakinan                   :islam  
5.      Suku/bangsa                            :makassar
6.      Status pernikahan                   :menikah
7.      Pekerjaan                                :ibu rumah tangga
8.      No.RM                                    :069112
9.      Tanggal masuk rumah sakit    :12/11/2011
10.  Tanggal pengkajian                 :14/11/2011

B.PENANGGUNG JAWAB

1.      Nama                                      :Tn”B”
2.      Usia                                         :37 tahun
3.      Jenis kelamin                           :laki-laki
4.      Pekerjaan                                :wiraswasta
5.      Hubungan dengan klien          :suami klien

II.KELUHAN UTAMA

1.      Alasan kunjungan/keluhan utama                   :klien masuk ke rumah sakit islam faisal pad a tanggal 14/11/2011 dengan  keluhan nyeri pada perut  bagian bawah.
2.      Sifat keluhan                                                   :hilang timbul
3.      Lamanya keluhan                                            :±30 menit
4.      Timbulnya keluhan                                         :bertahap
5.      Faktor yang memperberat                               :pada saat bak dan beraktivitas yang   banyak
6.      Upaya yang dilakukan untuk mengatasinya   :istirahat dan  minum obat
7.      Diagnosa medik                                              :ISK(infeksi saluran kemih)






III.RIWAYAT KESEHATAN

A.riwayat kesehatan yang lalu
            Klien mengatakan pernah  mengalami keguguran pada kehamilan pertamanya dan harus mengalami perawatan dirumah sakit.klien mengatakan pernah mengalami operasi kecil pada bagian perutnya,operasi tersebut dilakukan untuk mengeluarkan suatu cairan karena adanya suatu sumbatan pada kandung kemih.

B.riwayat kesehatan  sekarang
            Klien sekarang sedang menjalani perawatan dirumah  sakit ,klien nampak terbaring lemah ,expresi wajah meringis pada saat nyeri datang,tangan klien nampak di pasangi infus rl dan menjalani terapi obat-obatan.

C.riwayat kesehatan keluarga.
            GONOGRAM 3 generasi:terlampir

IV.RIWAYAT PSIKOSOSIAL

1.pola konsep diri
            Klien mengatakan tidak ada  sesuatu  hal yng istimewa pada dirinya
2.pola koping
Klien mengatakan tidak mudah stress jika menghadapi suatu masalah baik dalam  keluarganya maupun masalah yang ada diluar
3.pola interaksi
Klien mengatakan hubungan dengan  masyarakat maupun keluarganya sangat baik.

V.RIWAYAT SPIRITUAL

1.ketaatan beribadah
Klien mengatakan rajin melaksanakan sholat di rumahnya tapi sejak masuk kerumah sakit klien tidak bisa melaksanakan sholat karena adanya pembatasan aktivitas akibat terapi yang harus d ijalani.
2.dukungan keluarga klien
            Keluarga klien sangat mendukung kesembuhan  klien.
3.ritual yang biasa dijalankan  klien
Tidak ada kebiasaan kebiasaan atau  ritual-ritual yang sering dilakukan dalam ibadah klien.








GONOGRAM















 


























Keterangan:                                                                              komentar


 
       :laki-laki                                                               GI:-orang tua dari klien meninggal karena faktor usia.
                                                                                                     
                   :perempuan                                  
GII:-suami dari klien4 bersaudara                 dan suami klien adalah anak pertama
                   :garis keturunan                                                           -klien 5 bersaudara dan klien adalah anak ke 2


 
                   :meninggal                                         
                                                                                                GIII:klien memiliki 1 anak
                   :klien                                                  
                
    ?       :tidak diketahui
VI.PEMERIKSAAN FISIK

A.Keadaan umum klien
1.      Tanda-tanda distress:tidak ada
2.      Penampilan agak kusam
3.      Expresi wajah meringis pada saat nyeri datang
4.      Tinggi badan 170 cm
5.      Berat badan 65 kg
B.tanda-tanda vital
1.      TD:120/80mmhg
2.      S:36,5 c
3.      N:80x/i
4.      P:24x/i
C.sistem pernafasan
1.      hidung













































BAB V
PENUTUP



A. Kesimpulan





B. Saran
Untuk teman sesama mahasiswa dan penyusun agar dapat memprioritaskan masalah sesuai kebutuhan dasar manusia dan masalah utama klien ,agar nantinya kita bisa membuat asuhan keperawatan pada klien dengan benar dan  menunjang untuk kesehatan klien.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar